Selasa, 22 Maret 2011

TAHAPAN DALAM MENULIS KARYA TULIS ILMIAH

Tahapan dalam menulis Karya Tulis Ilmiah

Menentukan Topik
·         Pengertian Topik
Topik adalah berasal dari bahasa Yunani “topoi” yang berarti tempat, dalam tulis menulis berarti pokok pembicaraan atau sesuatu yang menjadi landasan penulisan suatu artikel. Topik merupakan hal yang pertama kali ditentukan ketika penulis akan membuat tulisan. Topik yang masih awal tersebut, selanjutnya dikembangkan dengan membuat cakupan yang lebih sempit atau lebih luas.Terdapat beberapa kriteria untuk sebuah topik yang dikatakan baik, diantaranya adalah topik tersebut harus mencakup keseluruhan isi tulisan, yakni mampu menjawab pertanyaan akan masalah apa yang hendak ditulis.Ciri utama dari topik adalah cakupannya atas suatu permasalahan msih bersifat umum dan belum diuraikan secara lebih mendetail.


·         Syarat Topik yang baik

a.       Topik harus menarik perhatian penulis.
Topik yang menarik perhatian akan memotivasi pengarang penulis secara terus-menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya.
b.      Diketahui oleh penulis.
Penulis hendaklah mengerti atau mengetahui meskipun baru prinsip-perinsip ilmiahnya.
Contoh:
• Metode atau penerapan yang digunakan.
• Metode analisis yang akan digunakan.
c.        Jangan terlalu baru, terlalu teknis dan terlalu kontroversial.
Bagi penulis pemula,topik yang baru kemungkinan belum ada referensinya dalam kepustakaan.Penulis harus menguasai topik. Topik yang kontroversial akan menimbulkan kesulitan untuk bertindak secara objektif.
d.      Bermanfaat.
Topik yang dipilih hendaknya bermanfaat.
e.       Jangan terlalu luas.
f.       Topik yang dipilih harus berada disekitar kita.
g.        Topik yang dipilih harus yang menarik.
h.       Topik yang dipilih ruang lingkup sempit dan terbatas.
i.         Topik yang dipilih memiliki data dan fakta yang obyektif.
j.         Topik yang dipilih harus kita ketahui prinsip-prinsip ilmiahnya. topik yang di pilih jangan terlalu baru.
k.       Topik yang dipilih memiliki sumber acuan.
Cara pembatasan Topik yaitu :
Pembatasann topik sekurang-kurangnya dapat membantu pengarang dalam beberapa hal:
• Memungkinkan pennulis penuh dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa topik tersebut benar-benar diketahuinya.
• Memungkinkan penulis mengadakan penelitian lebih intensif mengenai masalahnya.


Mengumpulkan Bahan
penulis mulai mengumpulkan bahan. Bahan bisa didapatkan dari berbagai media cetak maupun elektronika. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan terutama yang relevan dengan topik dan tema yang akan ditulis. Pemilihan bahan yang relevan ini bisa dengan cara membaca atau mempelajari bahan secara sepintas serta menilai kualitas isi bahan. Bahan yang sudah terkumpul tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperkaya pengetahuan penulis dan sebagai landasan teoretis dari karya tulis tersebut. 

Merencanakan Kerangka Karangan
Setelah memilih topik dan menentukan tema penulisan, serta mengumpulkan bahan yang relevan, penulis mulai merencanakan susunan kerangka penulisan. Wahab (1994:29) menyebutkan tiga alasan penulis perlu menyusun kerangka penulisan.
Tiga alasan tersebut adalah:
(1) penyusunan kerangka dapat membantu penulis mengorganisasikan ide-idenya,
(2) penyusunan kerangka mempercepat proses penulisan, dan
(3) penyusunan kerangka dapat meningkatkan kualitas bahasa.

Survei Lapangan
Ini merupakan langkah-langkah menulis karya ilmiah yang pertama, yaitu melakukan pengamatan atas obyek yang diteliti. Menetapkan masalah dan tujuan yang akan diteliti dan dijadikan karya ilmiah. Langkah ini merupakan titik acuan Anda dalam proses penulisan atau penelitian.

Penulisan Karya Ilmiah
Setelah kerangka penulisan karya ilmiah tersusun, langkah selanjutnya yang dilakukan penulis adalah mengembangkan kerangka penulisan karya ilmiah tersebut menjadi paragraf-paragraf pengembangan. Pengembangan sebuah paragraf harus memperhatikan hal-hal berikut ini.
(1) Pilihan kata dalam setiap kalimat dalam paragraf.
(2) Kalimat-kalimat dalam paragraf harus saling mendukung (tidak ada kalimat sumbang, yakni yang tidak mendukung ide pokok dalam paragraf).
(3) Setiap paragraf mengandung satu ide pokok yang dikembangkan dengan beberapa ide penjelas.
(4) Bahasa yang digunakan mengikuti kaidah yang berlaku.
(5) Ejaan dan tanda baca harus diperhatikan.
(6) Ada keterpaduan antara paragraf satu dengan paragraf berikutnya. 

Penyuntingan, Revisi, dan Draf Final
Setelah kerangka dikembangkan menjadi beberapa paragraf dengan memperhatikan beberapa hal dalam pengembangannya, kegiatan berikutnya adalah penyuntingan. Penyuntingan ini dapat dilakukan oleh penulis itu sendiri, dapat juga dengan bantuan orang lain. Proses penyuntingan ini meliputi beberapa unsur, yaitu:
(a) teknis penulisan (sistematika, ejaan, dan tanda baca),
(b) kalimat,
(c) paragraf,
(d) bahasa, dan
(e) isi.
 Setelah melalui proses penyuntingan ini, penulis mulai merevisi karya tulisnya. Pada akhirnya, draf final karya tulis ilmiah tersebut dapat disusun dan dipublikasikan.

Membangun Bibliografi
Kata bibliografi berasal dari bahasa Yunani dengan akar kata Biblion : yang berarti buku dan Graphein : yang bearti menulis, maka kata Bibliografi secara harfiah berarti penulisan buku. Dalam hal ini maka bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan , yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliografi adalah untuk menegrtahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumla buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

Penyusunan Bibliografi
 a. Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad.
 b. Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan abjad.
c. Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan refrensi, untuk refrensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan.
 d. Jarak antara baris dengan baris untuk satu refrensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
 e. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau empat ketikan.

Sumber :




Minggu, 13 Maret 2011

Metode Ilmiah

Pengertian 
 
 Metode ilmiah merupakan prosedur (urutan langkah) yang harus dilakukan untuk melakukan suatuproyek ilmiah.
Proses keilmuan untuk memperoleh pengetahuan secara sistematis berdasarkan bukti fisis. Ilmuwan melakukan pengamatan serta membentuk hipotesis dalam usahanya untuk menjelaskan fenomena alam. Prediksi yang dibuat berdasarkan hipotesis tersebut diuji dengan melakukan eksperimen. Jika suatu hipotesis lolos uji berkali-kali, hipotesis tersebut dapat menjadi suatu teori ilmiah.
 Secara umum metode ilmiah meliputi langkah-langkah berikut :
  1. Observasi awal
  2. Mengidentifikasi masalah
  3. Merumuskan Hipotesis
  4. Melakukan Eksperimen
  5. Menyimpulkan hasil eksperimen
Kriteria Metode Ilmiah
  •  Berdasarkan Fakta
      Keterangan – keterangan yang ingin diperoleh dalam penelitian, baik yang akan dikumpulkan dan dianalisa haruslah berdasarkan fakta – fakta yang nyata. Janganlah penemuan atau pembuktian didasarkan pada daya khayal, kira – kira, legenda – legenda atau kegiatan yang sejenisnya. 
  • Bebas dari Prasangka
Pertimbangan yang subjektif. Menggunakan suatu fakta harus dengan alasan dan bukti yang lengkap dan dengan pembuktian yang objektif.
  • Menggunakan Prinsip Analisa
Dalam memahami serta memberi arti dari fenomena yang kompleks, harus digunakan prinsip – prinsip analisa. Semua masalah harus dicari sebab – akibat serta pemecahannya dengan dengan analisa yang logis. 
  •  Menggunakan Hipotesa
Dalam metode ilmiah, peneliti harus dituntun dalam proses berfikir dengan menggunakan analisa. Hipotesa harus ada untuk memecahkan persoalan serta memadu jalan pikiran kearah tujuan yang ingin dicapai sehingga hasil yang ingin diperoleh akan mengenai sasaran dengan tepat. Hipotesa merupakan pegangan yang khas dalam menuntun jalan pikiran peneliti.
  •  Menggunakan Ukuran yang objektif
Kerja penelitian dan analisa harus dinyatakan dengan ukuran yang objektif. Ukuran tidak boleh dengan merasa – rasa atau menuruti hati nurani. Pertimbangan – pertimbangan harus dibuat secara objektifdan dengan menggunakan pikiran yang waras.
  •  Menggunakan Teknik Kuantifikasi
Dalam memperlakukan data ukuran kuantitatif yang lazim harus digunakan, kecuali untuk atribut – atribut yang tidak dapat dikuantifikasikan. 

Tujuan Metode Ilmiah
mendapatkan pengetahuan ilmiah (yang rasional, yang teruji) sehingga merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. 

sumber :
http://alphaomega86.tripod.com/metode_ilmiah.htm
 http://www.aguschandra.com/2010/10/metode-ilmiah/
http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_ilmiah

Senin, 28 Februari 2011

KARYA ILMIAH DAN KARYA NON ILMIAH

KARYA ILMIAH
Pengertian karya ilmiah
laporan tertulis dan diterbitkan yang memaparkan hasil penelitian atau pengkajian yang telah dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim dengan memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan
Ciri-ciri karya ilmiah

Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi karakteristik utamanya, yaitu :
·         struktur sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
·         komponen dan substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya abstrak.
·         sikap penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif, yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau kedua.
·         penggunaan bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang efektif dengan struktur yang baku.
 Sikap ilmiah
Dalam penulisan karya ilmiah ada 7 sikap ilmiah. Sikap-sikap ilmiah yang dimaksud adalah sebagai berikut :
·         Sikap ingin tahu. Sikap ingin tahu ini terlihat pada kebiasaan bertanya tentang berbagai hal yang berkaitan dengan bidang kajiannya.
·         Sikap kritis. Sikap kritis ini terlihat pada kebiasaan mencari informasi sebanyak mungkin berkaitan dengan bidang kajiannya untuk dibanding-banding kelebihan-kekurangannya, kecocokan-tidaknya, kebenaran-tidaknya, dan sebagainya.
·         Sikap terbuka. Sikap terbuka ini terlihat pada kebiasaan mau mendengarkan pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain, walaupun pada akhirnya pendapat, argumentasi, kritik, dan keterangan orang lain tersebut tidak diterima karena tidak sepaham atau tidak sesuai.
·         Sikap objektif. Sikap objektif ini terlihat pada kebiasaan menyatakan apa adanya, tanpa diikuti perasaan pribadi.
·         Sikap rela menghargai karya orang lain. Sikap menghargai karya orang lain ini terlihat pada kebiasaan menyebutkan sumber secara jelas sekiranya pernyataan atau pendapat yang disampaikan memang berasal dari pernyataan atau pendapat orang lain.
·         Sikap berani mempertahankan kebenaran. Sikap ini menampak pada ketegaran membela fakta dan hasil temuan lapangan atau pengembangan walapun bertentangan atau tidak sesuai dengan teori atau dalil yang ada.
·         Sikap menjangkau ke depan. Sikap ini dibuktikan dengan selalu ingin membuktikan hipotesis yang disusunnya demi pengembangan bidang ilmunya.
Macam-macam karya ilmiah

Macam-macam karya ilmiah, yaitu :
·         Skripsi adalah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain. Pendapat tersebut didukung data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung, observasi lapangan atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan.
·         Tesis
Tesis adalah jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Dalam penulisannya dituntut kemampuan dalam menggunakan istilah teknis dari istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi.
·         Disertasi
Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.

KARYA NON ILMIAH

Pengertian karya non ilmiah

Karya non-ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta pribadi tentang pengetahuan dan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari, bersifat subyektif, tidak didukung fakta umum, dan biasanya menggunakan gaya bahasa yang popular atau biasa digunakan (tidak terlalu formal).

Ciri-ciri karya tulis non-ilmiah :
            Ciri-ciri karya non-ilmiah yaitu :
·         ditulis berdasarkan fakta pribadi,
·         fakta yang disimpulkan subyektif,
·         gaya bahasa konotatif dan populer,
·         tidak memuat hipotesis,
·         penyajian dibarengi dengan sejarah,
·         bersifat imajinatif,
·         situasi didramatisir,
·         bersifat persuasif.
·         tanpa dukungan bukti

Macam-macam karya non-ilmiah
·         Cerpen
·         Novel
·         Drama
·         Roman
·         Dongeng

SUMBER :








Kamis, 24 Februari 2011

Penalaran Deduktif

    Penalaran deduktif adalah suatu penalaran yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus.
Silogisme
Silogisme adalah proses penalaran di mana dari dua proposisi (sebagai premis) ditarik suatu proposisi baru (berupa konklusi).Silogisme terbagi atas 3, yaitu :
  • Silogisme Kategorial
Adalah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi.
    · Premis umum : Premis Mayor (My)
    · Premis khusus remis Minor (Mn)
    · Premis simpulan : Premis Kesimpulan (K)
    Subjek simpulan disebut term mayor, dan predikat simpulan disebut term minor.
    Kaedah- kaedah dalam silogisme kategorial adalah :
Silogisme harus terdiri atas tiga term yaitu : term mayor, term minor, term penengah.
Silogisme terdiri atas tiga proposisi yaitu premis mayor, premis minor, dan kesimpulan
Dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan.
Bila salah satu premisnya negatif, simpulan pasti negative.
Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
Bila premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus. Dari premis mayor khusus dan premis minor negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.
  •  Silogisme Hipotesis
    Adalah silogisme yang memiliki premis mayor berupa proposisi hipotetis (jika), sementara premis minor dan kesimpulannya berupa proposisi kategoris.
    Ada 4 (empat) macam tipe silogisme hipotetik:
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengakui bagiar konsekuennya.
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent .
Silogisme hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
    Kaedah- kaedah Silogisme Hipotetik
        Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogisme kategorik.Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen .engan B, jadwal hukum silogisme hipotetik adalah:
    1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.
    2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
    3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
    4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana
  • Silogisme Alternatif
        Adalah proporsi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan. Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya. Konklusi tergantung dari premis minornya.Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif, seperti:
        Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif, seperti:
Silogisme disyungtif dalam arti sempit maupun arti iuas mempunyai dua tipe yaitu:
Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain.
Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.
    Kaedah-kaedah silogisme alternatif :
Silogisme disyungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar, apabila prosedur penyimpulannya valid
Silogisme disyungtif dalam arti luas, kebenaran koi adalah sebagai berikut:
a. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar)
b. Bila premis minor mengingkari salah satu a konklusinya tidak sah (salah)

Entimem
Adalah silogisme yang diperpendek.
Rumus Entimem : C = B, karena C = A
Contoh :
PU : Semua A=B : Guru yang disiplin selalu datang tepat waktu
PK : Sheila guru yang disiplin
S : Sheila selalu datang tepat waktu
Entimem : Sheila selalu datang tepat waktu karena ia guru yang disiplin.

sumber :

http://bundaarik.multiply.com
http://rahmaekaputri.blogspot.com/
http://wikipedia.com

Senin, 14 Februari 2011

PENALARAN INDUKTIF

Penalaran induktif adalah adalah suatu penalaran yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif.
Jenis-jenis penalaran induktif adalah :
1.      Generalisasi Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju kesimpulan umum.
Macam-macam Generalisasi
·         Generalisasi sempurna Adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk
·         Generalisasi tidak sempurna Adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.
Prosedur pengujian atas generalisasi tersebut adalah:
1. Jumlah sampel yang diteliti terwakili.
2. Sampel harus bervariasi.
3. Mempertimbangkan hal-hal yang menyimpang dari fenomena umum/ tidak umum.
 Generalisasi  loncatan induktif
Loncatan induktif adalah fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
Generalisasi tanpa loncatan induktif
Tanpa loncatan induktif adalah fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.


2.       Analogi
Analogi adalah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat yang sama.
Tujuan Analogi

§  Memudahkan pemahaman.
§   Menyingkap suatu kekeliruan
§  Meramalkan kesamaan
§  untuk menyusun klasifikasi


3.      Kausal
Kausalitas merupakan perinsip sebab-akibat yang dharuri dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.
Tujuan dari kausal adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan cara berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.
Contoh
§  Hujan turun dan akhirnya jalan-jalan pun becek.
§  Ia mengalami kanker payudara dan meninggal dunia.
§   Christian Ronaldo mahir bermain bola karena berlatih 12 jam setiap hari.




sumber : http://utlia.wordpress.com/2010/02/26/penalaran-induktif/
www.google.com

Sabtu, 15 Januari 2011

KUTIPAN DAN DAFTAR PUSTAKA

KUTIPAN
  •   Pengertian
            Kutipan adalah pin jaman pendapat dari seseorang baik berupa tulisan dalam buku, majalh, surat kabar, atau bentuk tulisan lainnya, maupun dalam bentuk lisan.

  • Prinsip Mengutip
          a. Karena kutipan itu adalah pinjaman pendapat seseorang, maka pengutip jangan mengadakan perubahan, baik kata-katanya maupun tekhniknya.Bila terpaksa mengadakan perbaikan maka penulis harus memberi keterangan.

           b.  Menghilangkan bagian kutipan
                Dalam kutipan diperkenankan menghilangkan bagian-bagian kutipan dengan syarat bahwa penghilangan bagian tersebut tidak menyebabkan perubahan makna.

  •  Jenis Kutipan
          a. Kutipan langsung
          b. Kutipan tak langsung
          c. Kutipan pada catatan kaki
          d. Kutipan atas ucapan lisan
          e. Kutipan dalam kutipan
          f. Kutipan langsung pada materi


  • Teknik Mengutip
  1. Kutipan langsung
· Yang tidak lebih dari empat baris :
a. kutipan diintegrasikan dengan teks
b. jarak antara baris kutipan dua spasi
c. kutipan diapit dengan tanda kutip
d. sesudah kutipan yang selesai, langsung dibelakang yang dikutip dalam tanda kurung ditulis sumber dari mana kutipan diambil, dengan menulis nama singkat atau nama keluarga pengarang, tahun terbit, dan nomor halaman tempat kutipan diambil.
· Yang lebih dari empat baris :
a. kutipan dipisahkan dari teks sejarak tiga spasi
b. jarak antara kutipan satu spasi
c. kutipan dimasukkan 5-7 ketukan, sesuai dengan alinea baru, maka baris pertama kutipan dimasukkan lagi 5-7 ketukan
d. kutipan diapit oleh tanda kutip atau tidak diapit tanda kutip
e. di belakang kutipan diberi sumber kutipan {seperti pada 1}
  1. Kutipan tak langsung
a. kutipan diintegrasikan dengan teks
b. jarak antara baris kutipan spasi rangkap
c. kutipan tidak diapit tanda kutip
d. sesudah selesai diberi sumber kutipan
  1. Kutipan pada catatan kaki
Kutipan selalu ditempatkan pada spasi rapat, meskipun kutipan itu singkat. Kutipan diberi tanda kutip, dikutip seperti dalam teks asli.
  1. Kutipan atas ucapan lisan
Harus dilegalisir dulu oleh pembicara. Dapat dimasukkan ke dalam teks sebagai kutipan langsung atau kutipan tak langsung.
  1. Kutipan dalam kutipan
Kadang-kadang terjadi dalam kutipan terdapat kutipan, dalam hal ini ada dua cara dalam mengutip :
a. bila kutipan asli tidak memakai tanda kutip, kutipan dalam kutipan dapat mempergunakan tanda kutip tunggal atau tanda kutip ganda.
b. bila kutipan asli tidak memakai tanda kutip tunggal, kutipan dalam kutipan memakai tanda kutip ganda. Sebaliknya bila kutipan asli memakai tanda kutip ganda, kutipan dalam kutipan memakai tanda kutip tunggal.
  1. Kutipan langsung pada materi
I Kutipan langsung dimulai dengan materi kutipan hingga perhentian terdekat (dapat berupa koma, titik koma, atau titik) disusul dengan sisipan penjelasan siapa yang berbicara.
DAFTAR PUSTAKA

  • Pengertian
Daftar Pustaka adalah sebuah daftar yang berisi judul buku-buku, artikel-artikel dan bahan-bahan penerbitan yang mempunyai pertalian dengan sebuah karangan.
  • Fungsi Daftar Pustaka
Bibliografi memberikan deskripsi yang penting tentang buku, majalah,harian secara keseluruhan. Bibliografi berfungsi sebagai pelengkap dan sebuah catatan kaki.
  • Unsur-unsur Daftar Pustaka
  1. Nama pengarang, yang dikutip secara lengkap.
  2. Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
  3. Data publikasi:penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke berapa, nomor jilid, dan tebal(jumlah halaman) buku tersebut.
  4. Untuk sebuah artikel diperlukan judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, jilid, nomor dan tahun.
  • Macam-macam Daftar Pustaka
  1. Buku-buku dasar : buku yang dipergunakan sebagai bahan orientasi umum mengenai pokok yang digarap.
  2. Buku-buku khusus : buku yang dipakai oleh penulis untuk mencari bahan-bahan yang langsung bertalian dengan pokok persoalan yang digarap.
  3. Buku-buku pelengkap : buku-buku yang topiknya lain dari yang digarap penulis.
  • Penyusunan Daftar Pustaka
  1. Nama pengarang diurutkan menurut alphabet, nama yang dipakai dalam urutan itu adalah nama keluarga.
  2. Bila tidak ada pengarang, maka judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan alphabet.
  3. Jika untuk seseorang pengarang lebih dari satu bahan referensinya, maka untuk referensi yang kedua dan seterusnya nama pengarang tidak perlu diikut sertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketukan.
  4. jarak antara baris dengan baris untuk satu referensi adalah satu spasi. Tetapi jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
  5. Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak 3 atau 4 ketikan.
Contoh daftar pustaka dengan seorang pengarang
Hockett, Charles F.1963. A Course in Modern Linguistics. New York : The Mac Millan Company.
Contoh daftar pustaka dengan dua atau tiga pengarang
Oliver, Robert T. and Rupert L. Cortright. 1958. New Training for Effective Speech. New York : Henry Holt and Company, Inc.


sumber : http://kubukubuku.blogspot.com/2009/07/teknik-mengutip-tulisan.html
Wahyu, Tri R.N.2006.Bahasa Indonesia. Jakarta : Universitas Gunadarma.
http://www.docstoc.com